بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله مصليا على محمد وآله ومن تلا
Jika diizinkan mengulur waktu, aku ingin mengukirnya menjadi sebuah Coretan
yang Indah penuh misteri. 19 tahun yang lalu aku lahir di Bumi Allah dengan
normal. Senyum serta isak tangis bahagia pun menyelimuti sirat wajah keluarga
terutama Umi dan Abiku.
Jangan tanya, kami hidup sederhana. Bisa dibilang kontrak di sebuah daerah
terpencil di Ibu Kota yang rentan sekali dengan musibah musiman alias Banjir.
Masih terbayang cerita Umi ketika aku masih berumur tiga bulan, bayiku digotong
diatas genteng oleh seorang tetangga depan rumah. Dari situlah aku belajar
jangan pernah meremehkan orang yang ekonominya pas pasan. Hidup itu harus
diperjuangkan. Belajar bersyukur itu mahal.
Dididik untuk selalu dekat dengan Sang Khaliq, Umi mengantarkanku agar
mengaji di TPA Tunas Islam. Umilah mercusuar Ilmu pertama bagiku. Dengan sabar
mendikku membaca, menulis latin dipadu dengan Iqro. Jadi, aku tidak mencicipi
masa masa TK seperti layaknya kawan kawanku. Beliau sangat krearif dan inovatif
dalam masa masa belajar agar anaknya tidak merasa bosan. Mungkin sederhana
dengan sentuhan kertas origami, vcd, buku bergambar, dll. Intinya melatih
motorik halus dan kasarnya agar menjadi seimbang.
Aku pun tumbuh dan berkembang. Dihantarnya aku untuk mengenyam pendidikan
tingkat Sekolah Dasar di MIN 12 Cibubur. Berkat ridho kedua orang tua, belajar
yang tekun, dengan tidak melupakan doa aku berhasil meraih bintang kelas terus
menerus.
Tidak hanya sekedar belajar, aku pun menyambi dengan berjualan. Mulai dari
majalah, gantungan kunci, sepray dsb. Aku jarang sekali jajan, Uangnya ditabung
dan kubelikan jajanan kecil untuk adik adikku. Meski tak seberapa, tapi ada
kebahagiaan disana. Umi Abi pernah usaha warung, jualan nasi uduk dan lontong.
Disana aku belajar melayani pembeli.
SMPIT Insan Mubarak adalah sekolahku yang bertempat di Joglo, Jakarta
Barat. Mengajukan beasiswa karena nilai dan prestasiku semasa di SD. Pihak
sekolah pun memberikan keringanan biaya masuk dan bulanan. Disana, aku pernah
mengikuti lomba Matematika dan Sains. Dari sekian lomba yang ada akhirnya
diizinkan untuk membawa juara 3 bidang Fisika dan Biologi.
Tidak sampai satu tahun di Joglo, aku dipindahkan ke Solo. Untuk mengkaji
ilmu diin lebih dalam lagi. Bertemu dan belajar dengan guru guru yang hebat tak
terkalahkan keikhlasannya. MTS NDM Surakarta penuh kenangan yang tidak bisa
disebutkan satu persatu. Disambung KMI NDM tanpa tes. NDM bagiku adalah Sekolah
yang sederhana namun berhasil mencetak mental orang hebat. Dengan bimbingan
para guru yang amat sabar, tatkala duduk di 2 KMI (sma) aku melanjutkan
pendidikanku ke Bumi Kinanah.
Tiba di Negri Piramid pada tanggal 28 Mei 2014 dengan pintu pintu kemudahan
yang Allah limpahkan. Mengurus segala birokrasi yang ada, aku pun masuk Dirosah
Khosoh (DK) setelah menunggu nama selama tiga bulan. Masuk mustawa dua lalu
naik lagi ke mustawa ta'hiliy. Belajar disana istimewa luar biasa. Tanpa
mengenal umur, aku awalnya kaget jika duduk berdampingan dengan seorang akhwat
yang sedang hamil besar sering sekali izin ke kamar mandi karena mual. Atau
dibelakangku seorang nenek tua berumur 60 tahunan tanpa gigi masih saja
semangat menghapal qoidah nahwu. Masihkah kita mencintai ilmu ?
Musim panas tiba. Libur empat bulan aku gunakan sebaik mungkin untuk
mempersiapkan lika liku Imtihan Qobul. Imtihan Qobul adalah tes Mahad Buust
untuk menentukan kita berada dikelas 123 idadiy (setingkat smp) atau 123
tsanawiy (setingkat sma). Dengan izin Allah dan rahmat dari-Nya aku loncat ke 3
tsanawiy.
Satu tahun di 3 tsanawiy aku mengasah bahasa fushah nan amiyah serta
memperluas pengalaman dengan kawan kawan yang berbeda bahasa nan benua. Pernah
suatu hari kami saling mencicipi makanan khas negara masing masing. Ada yang
dari Rusia,Thailand, Turkey, Somalia, Britania. Unik ya ternyata.
Tak lupa, Grand Syeikh Ahmad Thoyyib tak hanya sekali mengunjungi kelas
kami. Yang beliau katakan adalah :
اي خدمة يا بنات ؟ انا تحت امرك
Ujian di Mahad Buust memang gurih, asem, manis, gado gado. Aku harus
meneguk 16 madah salah satunya geografi dan sejarah mesir yang butuh tenaga
exstra.
Pendaftaran kuliah dibuka di awal Bulan Oktober. Ijroat sana sini, dan aku
memilih Kuliah Ushuludin dengan berbagai pertimbangan yang ada. Ketika aku
melihat nilai tsanawiyku yang pas pasan aku berniat untuk mengajukan minhah
BeZet (Baitul Zakat Kuwaity). Meski awalnya banyak yang bilang "udah telat
pendaftarannya, anak Mahad nilainya tidak diterima, nunggu natijah kuliah dulu
dan omongan omongan lainnya". Tapi aku bersikeras mencoba, mencoba dan
terus mencoba. Allah pun mengijabahi doaku. Dan inilah Cara Pengurusan Minhah
BeZet (klik di sini) atau (di sini) berdasarkan
pengalamanku, semoga bermanfaat bagi generasi setelahnya. Aamien.
Selamat belajar
Selamat melayani Umat
Semoga Allah selalu mempermudah jejak jejak para Pecinta Ilmu :)
Serpihan Senja
di Cimanggu City Zaharal Haq
---
ini dia sekolah SMA-ku di Egypt, kamu mau belajar di sini?


0 komentar