بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله مصليا على محمد وآله ومن تلا
Berawal dari ketidaktahuan yang mengakar lalu tumbuh bibit bibit
keingintahuan yang tinggi. Tatkala itu aku sedang iseng membuka Facebok lalu
muncul di Beranda perihal Daurah Ulum Syariyyah yang diadakan oleh Azhar.
Karena, sejujurya aku memang buta sekali dengan dunia talaqy. Kalau boleh
beralasan karena aku tipekal planner. Menargetkan dua tahun pertama itu untuk
menuntaskan masalah Bahasa. Baik fushah dipoles dengan amiyah juga.
Bicara soal talaqy, akhirnya aku berangkat pagi pagi mencari kejelasan akan
daurah tersebut. Bertanya sana sini, bertemulah dengan Ustad Musthofa sebagai
pengurus idarah Azhar yang bertempat di ruwaq مغاربة.
Lalu beliau mengatakan kepadaku agar datang tanggal 21 Januari 2017, pukul 9
pagi berkumpul di Zillah Fatimiyah.
Itulah tanggal hebat bagiku.
Daurah dibuka oleh Syeikh أبو اليزيد سلامة
dengan suguhan kitab تعليم المتعلم طريق التعلم.
Lalu beliau menjelaskan bahwa salah satu kegiatan dars yang diampu oleh Azhar
itu terkotakkan menjadi lima level. Mulai dari mustawa Tamhidiy, Mubtadi,
Mutawasith, Muntaha dan Mutamayyiz. Dan aku ikut dari yang paling terendah.
Daftar dengan membawa foto diri, foto copy paspor dan mengisi bayanat yang
ada.
Berkumpul di majlis ilmu, berteman dengan orang orang soleh عبير فوزي Fatma Elzahraa serta diberi
kesempatan menadah ilmu langsung pada kucuran pertama melalui lisan para
Masyayikh Azhar itu membuat tak terasa air mata bercucuran. Menyentuh dinding
masjid Azhar saja untuk yang pertama kali membuat hati gemetar tak karuan
disambut sujud tersungkur. Betapa rindunya.. Betapa syahdunya ulama ulama
terdahulu menuntut ilmu. Meski aku tahu tak sebanding bahkan sangat jauh
tingkat keilmuwannya dengan mereka, namun aku "Belajar Mencintai
Ilmu".
Daurah ulum syariyyah untuk marhalah tamhidiyyah itu aku menggali 9 madah
diantaranya adalah nahwu, hadits, siroh, tafsir, ulumul quran, fiqh, ushul
fiqh, mustolah hadits.
Menyelam di Samudera Ilmu, tidak hanya di masjid Azhar. Aku mencoba berguru
dengan Syeikh Abdullah Izzuddin di madiyafah Syeikh Ismail Shodiq Al-Adawiy.
Aku hadir di majelis hadits beliau salah satu nya qiroah kutubu sittah, tsulasiyat
bukhari, arbain nawawi, syamail muhammadiyah dan fadhail min syahri ramadhan
dengan ijazah bersanad muttasil inshaAllah. Sesekali Syeikh Izzuddin membawa
istri dan anaknya. Akupun akrab bertukar cerita dengan istri beliau. Masih
ditempat yang sama, aku pun duduk mempelajari kitab tajul arus disusul syuzur
zahab bersama Syeikh Fathy Hijaziy.
Teringat juga moment berharga akan kedatangan Syeikh asal Mekkah أسامة سعيد منسي الحسني dalam majelis Qiraah
Muatho', pun pula qiroah kitab targhib wa tarhib bersama para pemburu ilmu
Rahma Donna Sarumpaet, Nina Herlina, dan Zaharal Haq sejak pukul 9 pagi sampai
waktu maghrib tiba.
Perjalanan paling indah, waktu paling berharga adalah menghabiskannya
dengan ilmu dan beguru. Semoga Allah membalas semua guru, kerabat, teman,
Masyayikh Azhar hingga orang tak dikenal di bus 80 Coret yang menjadi wasilah
kemudahanku dalam belajar di Bumi Kinanah. Teruntuk Bunda Najma Wati dan Nurul
Hidayah yang tengah melaksanakan Umrah di tanah haram. Dengan sangat tolong
kirimkan kami para tholabul ilmi Doa kemudahan serta keberkahan ilmu :
اللهم انا نسألك علما واسعا ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
Kabut pagi
Di Serpong
---
Berani khatamkan 1000 kitab :) ?


0 komentar