Me

Goresan




Jikalau diizinkan memutar waktu sembari menyulam kata rindu, maka aku teringat akan satu senja yang menggoreskan senyuman syahdu. Rumah kami sederhana, namun kami bahagia. Mengapa? Karena rasa syukur itu selalu ada di dada. Di kala itu, kami sedang duduk duduk santai di atas karpet coklat, maklum tidak ada sofa apalagi AC di kota mungil bernama Cibubur. 

Aku mengumpulkan adik adikku. Dan menanyakan kepada mereka satu persatu. "Kalau sudah besar nanti mau Adventure ke Negara apa?" aku memulai percakapan. 
Nadiah, adikku yang paling perhatian pun membalas "Aku mau ke Jepang, teh". Awalnya aku terkaget kaget mendengarnya, namun kalau diperhatikan adikku yang satu ini memang pandai melukis komik yang berbau Japan dan sebagai teteh yang baik aku mendukungnya dengan membelikan kamus Indonesia-Jepang untuknya. Semoga tidak lupa dengan hadiah kecil dariku ya Diah, dan kalau sudah sampai di Jepang tolong warnai mereka dengan Islam yang indah ya..

Pertanyaan tetap sama, dan jawaban di susul oleh si manis, Qonita namanya. Umiku selalu bilang "Qonita itu anak paling qonaah, menerima apa adanya dari Allah dan yang selalu mengucapkan Alhamdulillah" 
Mataku meliriknya tanda aku menunggu jawaban. Ia pun membalas dengan mengerutkan dahi. "Qonita mau ke Turkey, tanahya Muhammad Al Fatih Sang Penakluk!" aku pun menyuruhnya untuk menggambar Masjid Biru lalu ditempel di tembok kamarnya. Dan diatas gambar tersebut dia menulis "Turkey, Waiting For me Please". Dengan melihat sejarah yang ada di sana, tentu mengingatkan kita bahwa Islam itu pernah berjaya. Bisyarah Rasulullah itu benar adanya. InshaAllah Roma pun pasti menjadi nyata. 

Ini dia, adik aku yang Zuper Unik. Gayanya cool abis, banyak orang bilang Mushab itu asik kalau dijak ngomong. Dan jawaban dari Mushab yang bikin geleng kepala yaitu "Teh.. Mushab pengen ke China!!" kita saat itu melotot serempak. Qonita menimpal "kamu ngapain Ab, kesana?". Mushab pun menjawab "mau belajar silat kayak Jekicen" kamipun tertawa renyah. Kalau harapan Abiku ke Mushab itu, kelak Mushab bisa tumbuh layaknya Mushab bin Umair, duta besar Islam yang dikirim Rasulullah ke Madinah. Yang tidak hanya diberi ketampanan namun memiliki semangat juang yang besar, berkorban demi meninggikan kalimat-Nya. Aamiin.

Muadz Al Faqih. Namun kami biasa memanggilnya Faqih atau Qih. Anak yang tekun belajar, senang menghapal Al-quran. Ada kesamaan antara aku dan Faqih adalah kita sama sama suka Matematika. Ngotak ngatik angka begitu. "Kamu mau menjelajahi Negara apa Qih?" aku bertanya kepadanya. Faqih pun menjawabnya dengan tegas "Faqih mau ke Yaman seperti kembaran Faqih, Muadz bin Jabal!!!". " kalau mau kesana, berarti faqih harus giat belajarnya ya.." nadiah pun memberikan nasehat. Faqih mengiyakan. InshaAllah.

Fatimah, si bungsu. Anak yang paling cerdas. Semua kebaikan kakak kakaknya ada di Fatimah. Bismillah MashaAllah. Ketika itu fatimah masih sangat kecil dengan wajah polosnya yang imut. 
Nah.. Terakhir jawabannya Fatimah. Kami jelas penasaran dibuatnya. Fatimah beradu mata, memandang kami satu persatu dan ia mulai mengeluarkan suara "Fatimah mau ke Syam!" 
Sontak kami berlima menjawab "HAH?!"

Kalau karakter tetehnya bagaimana ya?

Masih menyimpan tanda tanya :)

You Might Also Like

0 komentar